Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pembagian Dharmasastra pada Catur Yuga


1. Dharmaśastra-nya Manu pada Zaman Krtayuga

Zaman Krtayuga merupakan awal pertama dari Catur Yuga. Masa Krtayuga adalah merupakan masa yang penuh kedamaian, tidak ada manusia yang berbuat adharma walaupun hanya dalam pikiran. Semua manusia pada masa itu selalu berperilaku disiplin, berpikir baik, berkata dan berperilaku yang benar dan suci. Manusia pada masa itu selalu mematuhi ajaran-ajaran kebajikan, tiada pernah manusia menyakiti mahkluk lain baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Pada masa itu semua manusia dalam kebahagiaan. Zaman Krtayuga juga disebut Satyayuga, yang mengandung arti bahwa pada masa itu manusia hidup dalam kesetiaan yang diselimuti oleh kebajikan. Kesadaran umat manusia akan dharma sangat tinggi. Budaya manusia sangat luhur, moral dari manusia tidak rusak dan kebenaran sangat dijungjung sebagai aturan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu zaman ini disebut sebagai zaman keemasan. Corak kehidupan pada masa Krtayuga ditandai dengan corak kehidupan secara khusus, seperti tapa, yoga, samadhi. Masa Krtayuga ini berlangsung selama 1.460.000 tahun manusia dengan ketentuan masa berikutnya berkurang satu. Pada masa krtayuga hukum yang berlaku adalah Dharmaśastra-nya Manu.

2. Dharmaśastra-nya Gautama untuk Zaman Tretayuga

Tretayuga adalah zaman kerohanian. Sifat-sifat kerohanian sangat jelas terlihat, agama menjadi dasar hidup, cara pandang masyarakat tentang kebenaran mulai berubah, karena pikiran manusia mulai dipengaruhi oleh sifat yang kurang baik. Orang-orang mulai berbuat dosa dan manusia tidak baik mulai bermunculan, namun semua masih berjalan secara seimbang. Aktivitas keagamaan dan kerohanian sangat dekat dengan kehidupan manusia. Zaman Tretayuga corak kehidupan yang khusus terlihat adalah jñana (ilmu pengetahuan). Pada zaman ini seseorang yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas akan sangat dihargai dan dihormati.

3. Dharmaśastra-nya Sankha-likhita untuk Zaman Dwaparayuga

Pada Zaman Dwaparayuga, manusia dikatakan memiliki dua sifat, yakni sebagian dirinya merupakan kebaikan dan sebagian lainnya memiliki sifat yang kurang baik. Zaman ini diakhiri oleh pemerintahan Parikesit yang merupakan cucunya dari Arjuna. Corak kehidupan pada Zaman Dwaparayuga ditandai oleh yajña. Persembahan berupa yajña (kurban suci) merupakan jalan persembahan dan sekaligus bentuk penghormatan pada masa zaman tersebut. Melaksanakan upacara yang besar, maka seseorang akan sangat dihormati dan dimuliakan.

4. Dharmaśastra-nya Parasara untuk Zaman Kaliyuga

Zaman terakhir dalam ajaran agama Hindu adalah Zaman Kaliyuga. Zaman Kaliyuga merupakan zaman kehancuran. Zaman Kaliyuga merupakan kebalikan dari Zaman Krtayuga, karena pada Zaman Krtayuga hati manusia benar-benar terfokus kepada Tuhan dalam manifestasi Beliau sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur alam beserta isinya. Pada zaman ini banyak manusia melupakan Tuhan. Moral manusia banyak yang rusak. Siswa banyak melawan gurunya. Banyak orang mencari penghasilan dengan jalan yang tidak jujur. Tindak kejahatan, kebohongan dan tindak kekerasan meningkat dengan sangat tinggi. Zaman Kaliyuga uang paling berkuasa, jabatan dikatakan dapat dibeli dengan uang. Banyak pemuka agama yang tidak melaksanakan kewajiban/swadarmanya dengan benar. Ada kecenderungan tokoh agama dijadikan komuditas untuk ekonomi dan panggung politik. Oleh sebab itu pada Zaman Kaliyuga kepuasan hatilah yang menjadi tujuan utama dari manusia. Dalam bahasa sanskerta kata kali berarti pertengkaran atau percekcokan. Selanjutnya kitab skanda Purana XVIII.1 disebutkan bahwa pusat pertengkaran disebabkan oleh minuman keras, perjudian, pelacuran dan perebutan harta harta. Pada zaman ini bila manusia telah mampu memenuhi sifat keduniawian, baik dari segi harta maupun kedudukan itulah yang menjadi tujuan mereka yang utama. Lebih lanjut dalam Kakawin Nitisastra IV.10 disebutkan:
Pandening kali muurkaning jana wimoha matukar arebut kawiryan. Tan wring raatnya makol lawan bhatara wandhawa, ripu kinayuh paksrayan. Dewa drewya winasa dharama rinuruh kabuyutan inilan paada sepi wyarthang sapata su prasaasti linebur tekaping adhama muurka ring jagat.
Terjemahannya:
Karena pengaruh zaman kali manusia menjadi kegila-gilaan, suka bertengkar berebut kedudukan. Mereka tidak mengenal dunianya sendiri, bergumul melawan saudara-saudaranya dan mencari perlindungan musuh. Benda-benda suci dijadikan alat merusak dharma, peninggalan leluhur yang mulia ditinggalkan sampai menjadi sepi. Kutukan tidak berarti lagi, piagam yang suci dihilangkan, semua itu karena perbuatan orang-orang angkara murka (Wiana,2003:61).

Berdasarkan terjemahan sloka di atas, dapat ditegaskan bahwa pada Zaman Kaliyuga sifat buruk lebih mendominasi sikap individu manusia sehingga manusia mengalami kegelapan. Manusia hanya mengejar objek duniawi seperti tahta dan kekayaan. Untuk mendapat sesuatu, manusia akan melakukan segala cara untuk memperoleh kedudukan. Pengaruh tersebut di atas harus dihindari dengan cara menumbuhkan sikap dharma dalam diri setiap seseorang.

Posting Komentar untuk "Pembagian Dharmasastra pada Catur Yuga"