Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjaga Transparansi dan Tradisi: Catatan dari Parum Pangempon Pura Kahyangan Jagat Pucak Meru


Selamat malam Semeton Pembaca,

Kehidupan bermasyarakat di Bali tidak pernah lepas dari konsep Sgilik-Saguluk Salunglung Sabayantaka, yang berarti berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, dalam semangat kebersamaan. Semangat inilah yang kembali terlihat jelas pada rabu malam, 6 Mei 2026 lalu.

Bertempat di Wantilan Pura Kahyangan Jagat Pucak Meru, para krama pangempon berkumpul dalam suasana kekeluargaan untuk melaksanakan Parum (Rapat) Pangempon. Pertemuan yang dimulai tepat pukul 19.00 WITA ini memegang peranan krusial, tidak hanya untuk masa depan pura, tetapi juga sebagai bentuk akuntabilitas kepada krama dan Ida Bhatara.

Transparansi Pasca-Piodalan: Wujud Tanggung Jawab Skala-Niskala

Agenda utama yang membuka paruman malam itu adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban (LPJ) keuangan pasca-piodalan yang telah sukses diselenggarakan beberapa waktu lalu.

Dalam tatanan masyarakat adat saat ini, transparansi keuangan adalah hal yang mutlak. Pengurus pangempon memaparkan secara mendetail seluruh rincian pengeluaran, mulai dari kebutuhan sarana upakara (banten), wewalen (tari wali), hingga konsumsi dan akomodasi pemedek.

Transparansi dalam pengelolaan dana pura bukan sekadar masalah angka di atas kertas, melainkan wujud tanggung jawab moral (skala) dan ketulusan niat (niskala) di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tanggapan dari krama pangempon pun sangat positif. Diskusi berjalan dua arah secara sehat, memberikan masukan-masukan konstruktif untuk pelaksanaan yadnya yang lebih efektif dan efisien di masa mendatang.

Membahas Status Pura untuk Masa Depan Pura Kahyangan Jagat Pucak Meru

Selain masalah administrasi keuangan, paruman malam itu juga menyentuh ranah yang sangat strategis, yaitu pembahasan terkait status Pura Kahyangan Jagat Pucak Meru.

Sebagai salah satu tempat suci yang menyandang status Kahyangan Jagat, pura ini memiliki nilai spiritual dan historis yang sangat besar, tidak hanya bagi krama penyungsung lokal tetapi juga bagi umat Hindu secara luas. Pembahasan mengenai status ini sangat penting untuk:
  • Memperjelas legalitas dan zonasi kawasan suci pura.
  • Mengatur sistem tata kelola (manajemen) pura agar semakin profesional namun tetap ajeg.
  • Menyelaraskan program pemeliharaan fisik serta koordinasi dengan pemerintah daerah maupun instansi terkait.

Sinergi Menuju Pura yang Ajeg dan Mandiri

Parum yang berlangsung hingga malam hari ini berjalan dengan lancar dan menghasilkan beberapa kesepakatan penting (gilik saguluk). Antusiasme dan kehadiran krama pangempon menjadi bukti nyata bahwa rasa memiliki (rasa nresnain) terhadap Pura Kahyangan Jagat Pucak Meru masih sangat kental dan kuat.











Melalui paruman seperti ini, kita belajar bahwa merawat pura tidak hanya soal maturan (berupacara), tetapi juga tentang bagaimana mengelola, menjaga harmoni, dan memastikan warisan leluhur ini tetap ajeg untuk generasi masa depan.

Bagaimana tanggapan Semeton mengenai pentingnya transparansi keuangan di lembaga adat atau pura? Yuk, bagikan pendapat Semeton di kolom komentar! Jangan lupa untuk membagikan artikel ini agar semakin banyak krama yang terinspirasi.

Posting Komentar untuk "Menjaga Transparansi dan Tradisi: Catatan dari Parum Pangempon Pura Kahyangan Jagat Pucak Meru"